Hijabisasi Perempuan dalam Ruang Publik


Dalam Islam tidak jelas dikotomi publik dan privat. Perempuan Islam tetap menjalankan tugas reproduksinya tanpa meninggalkan kehidupan publiknya. Ini terlihat dari keterlibatan dan keaktifan isteri-isteri Nabi dan sahabat-sahabat perempuan beliau yang bisa kita baca dalam sejarah hidup Nabi.
Ruang publik yang dimaksud di sini adalah semua wilayah kehidupan sosial yang memungkinkan kita untuk membentuk opini publik. Pada prinsipnya, semua warga masyarakat boleh memasuki ruang ini, entah itu perempuan maupun laki-laki. Yang dipercakapkan dalam ruang ini adalah persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan umum yang dibicarakan tanpa paksaan. Dalam ruang ini tercipta iklim demokratis, karena dengan itulah konsensus yang bebas dari paksaan dan dominasi bisa dicapai.
Konsep ini diambil dari Habermas tentang teori masyarakat dan mengundang perdebatan dikalangan feminis. Karena masyarakat yang dimaksudkan Habermas dalam penciptaan opini publik ini, kata para feminis, mengabaikan perempuan yang identik dengan ruang privat. Karenanya, pembagian dikotomi antara publik dan privat menjadi salah satu aspek analisa para feminis.
Awal kritik tentang dikotomi publik dan privat ini disampaikan oleh Mary Walstonecraft, seorang pelopor feminis liberal abad kedelapan belas. Dalam masyarakat yang kontemporer, katanya, pertumbuhan kapitalisme dan peraturan-peraturan dalam sebuah negara menimbulkan kebingungan dalam bentuk dikotomi antara ruang publik dan privat. Kemunculan ekonomi pasar, sebagai tanda awal kapitalisme pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas amat menganggap penting pemisahan antara publik dan masyarakat. Kehidupan publik dianggap berhubungan dengan urusan dan layanan yang diberikan negara. Masyarakat menyediakan hak-hak bagi laki-laki, tidak pada perempuan. Padahal hanya sedikit laki-laki yang berperan dalam ruang publik. Menurut Walstonecraft, menyingkirkan perempuan dalam ruang publik akan menyuburkan dominasi terhadap perempuan. Tidak hanya feminis liberal yang mengkritik dikotomi ruang terhadap perempuan ini, feminis radikal dan feminis sosialis juga melakukan hal yang sama.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: